Beranda / Publication

Upaya USAID INTEGRITAS Memperkuat Strategi Pencegahan Korupsi

Foto: Dok. Kemitraan

Tanggal 21-30 September, KEMITRAAN mengumpulkan 188 aktivis perwakilan dari 76 Organisasi Masyarakat Sipil (OMS), akademisi serta praktisi dalam rangka merumuskan masukan untuk penyusunan dokumen Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) periode 2023-2024. 

Dokumen Stranas PK merupakan dokumen pemerintah yang menjadi acuan bagi kementerian, lembaga, pemerintah lokal, dan pemangku kepentingan lainnya dalam melaksanakan program pencegahan korupsi di Indonesia. Gerakan ini dipelopori oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Kantor Staf Kepresidenan. 

Diskusi menghasilkan 16 proposal tematik pencegahan korupsi di sektor pengelolaan perikanan, kehutanan, sumber daya alam lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), penegakan hukum, serta keuangan politik. Dalam diskusi, forum OMS memiliki perhatian terhadap isu spesifik, seperti penangkapan ikan ilegal dan pembuangan bahan bakar kapal laut ilegal; perijinan pengolahan sumber daya alam terintegrasi; verifikasi laporan pernyataan kekayaan aparatur negara; dan pengumpulan penalti dan denda perusahaan, dan masalah-masalah lainnya. 

Forum ini juga menemukenali bahayanya korupsi yang terjadi terhadap program-program yang sedang dilaksanakan oleh OMS, terutama dalam hal konservasi ekosistem kelautan dan perikanan. 

“Melalui kegiatan hari ini, kita menyadari bahwa korupsi sangat berdampak terhadap tata kelola perikanan Indonesia. Hari ini, kita diajak berdiskusi untuk memikirkan dengan lebih detil. Ini tantangan buat kita para CSO (Civil Society Organisation) yang selama ini berjuang berkampanye menyelamatkan laut, terutama salah satunya dari ancaman korupsi,” ungkap Afdillah Chudiel, Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia. 

“Kita berharap hasil rekomendasi hari ini benar-benar bisa menyentuh akar masalah korupsi di sektor kelautan. Sektor ini berpotensi meningkatkan devisa yang akan berdampak pada kesejahteraan. Namun, di sisi lain, kita juga perlu memikirkan upaya-upaya perlindungan karena korupsi menjadi salah satu ancaman bagi potensi dan keberlanjutan sumber daya laut Indonesia,” lanjutnya.

Forum ini merupakan bagian dari program Indonesia Integrity Initiative (INTEGRITAS) yang didukung oleh U.S. Agency for International Development (USAID). Selain KEMITRAAN, Indonesia Corruption Watch (ICW)Transparency International Indonesia (TI-I), dan Basel Institute on Governance menjadi bagian dari konsorsium program INTEGRITAS yang berlangsung selama lima tahun ke depan. 

Dokumen yang dihasilkan akan diserahkan kepada tim Stranas PK 2023-2024 agar dapat diadopsi ke dalam dokumen strategi final. Program USAID INTEGRITAS meyakini bahwa peningkatan keterlibatan masyarakat, tidak hanya dalam proses pembentukan kebijakan tetapi juga dalam monitoring dan implementasi, dapat menuju pada suatu perubahan yang signifikan. Dengan demikian, program ini akan terus mendukung kerjasama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil dalam upaya-upaya pencegahan korupsi. 

2016

Pada bulan Maret 2016, KEMITRAAN menerima akreditasi internasional dari Adaptation Fund. Dewan Adaptation Fund, dalam pertemuannya yang ke-27, memutuskan untuk mengakreditasi KEMITRAAN sebagai National Implementing Entity (NIE) dari Adaptation Fund. KEMITRAAN menjadi lembaga pertama dan satu-satunya lembaga Indonesia yang terakreditasi sebagai NIE Adaptation Fund di Indonesia.

2020

Perjanjian ini ditandatangani antara Green Climate Fund (GCF) dan KEMITRAAN. Perjanjian ini meresmikan akuntabilitas KEMITRAAN dalam melaksanakan proyek-proyek yang disetujui oleh GCF.

 

Untuk diketahui, GCF adalah dana khusus terbesar di dunia yang membantu negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kemampuan mereka dalam merespons perubahan iklim.

 

Dana ini dihimpun oleh Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada tahun 2010. GCF memiliki peran penting dalam mewujudkan Perjanjian Paris, yakni mendukung tujuan untuk menjaga kenaikan suhu global rata-rata di bawah 2 derajat celsius.

2000-2003

KEMITRAAN memainkan peran krusial dalam mendukung pengembangan undang-undang untuk membentuk KPK. Hal ini diikuti dengan langkah mendukung Pemerintah dan DPR dalam memilih calon komisioner yang kompeten dan juga mendukung kelompok masyarakat sipil untuk mengawasi secara kritis proses seleksinya. Setelah komisioner ditunjuk, mereka meminta KEMITRAAN untuk membantu mendesain kelembagaan dan rekrutmen awal KPK, serta memainkan peran sebagai koordinator donor. Sangat jelas bahwa KEMITRAAN memainkan peran kunci dalam mendukung KPK untuk mengembangkan kapasitas dan strategi yang diperlukan agar dapat bekerja seefektif mungkin.

2003

Pada tahun 2003, KEMITRAAN menjadi badan hukum yang independen yang terdaftar sebagai Persekutuan Perdata Nirlaba. Pada saat itu, KEMITRAAN masih menjadi program yang dikelola oleh UNDP hingga akhir tahun 2009. Sejak awal tahun 2010, KEMITRAAN mengambil alih tanggung jawab dan akuntabilitas penuh atas program-program dan perkembangannya.

1999-2000

Kemitraan bagi Pembaruan Tata Kelola Pemerintahan, atau KEMITRAAN, didirikan pada tahun 2000 setelah berlangsungnya pemilihan umum pertama di Indonesia yang bebas dan adil pada tahun 1999. Pemilu bersejarah ini merupakan langkah penting dalam upaya Indonesia keluar dari masa lalu yang otoriter menuju masa depan yang demokratis. KEMITRAAN didirikan dari dana perwalian multi-donor dan dikelola oleh United Nations Development Programme (UNDP) dengan mandat untuk memajukan reformasi tata kelola pemerintahan di Indonesia.

2020

Perjanjian ini ditandatangani antara Green Climate Fund (GCF) dan KEMITRAAN. Perjanjian ini meresmikan akuntabilitas KEMITRAAN dalam melaksanakan proyek-proyek yang disetujui oleh GCF.

Untuk diketahui, GCF adalah dana khusus terbesar di dunia yang membantu negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kemampuan mereka dalam merespons perubahan iklim.

Dana ini dihimpun oleh Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada tahun 2010. GCF memiliki peran penting dalam mewujudkan Perjanjian Paris, yakni mendukung tujuan untuk menjaga kenaikan suhu global rata-rata di bawah 2 derajat celsius.

1999-2000

Kemitraan bagi Pembaruan Tata Kelola Pemerintahan, atau KEMITRAAN, didirikan pada tahun 2000 setelah berlangsungnya pemilihan umum pertama di Indonesia yang bebas dan adil pada tahun 1999. Pemilu bersejarah ini merupakan langkah penting dalam upaya Indonesia keluar dari masa lalu yang otoriter menuju masa depan yang demokratis. KEMITRAAN didirikan dari dana perwalian multi-donor dan dikelola oleh United Nations Development Programme (UNDP) dengan mandat untuk memajukan reformasi tata kelola pemerintahan di Indonesia.