Generasi Muda Pekalongan Melawan Krisis Iklim

07 Mar 2022
Dok. Kemitraan

Banjir akibat dari dampak perubahan iklim menjadi tantangan bagi masyarakat di wilayah pesisir Indonesia, salah satunya Kota Pekalongan. Tinggi muka air laut akibat dari pemanasan global menyebabkan sebagian wilayah pesisir Kota Pekalongan tergenang. kondisi ini diperparah dengan terjadinya penurunan muka tanah di sebagian wilayah Kota Pekalongan hingga 34 cm per tahun (KEMITRAAN tahun 2018). Padahal kota Pekalongan dikenal sebagai kota Batik dunia, bahkan tercatat dalam jaringan kota kreatif oleh UNESCO. 

Perubahan iklim juga mengancam kehidupan anak muda, dari mulai aktivitasnya terbatas, munculnya berbagai macam penyakit kulit, wabah dan juga gangguan reproduksi pada perempuan. Oleh karena itu, generasi muda Pekalongan saat ini harus mulai beraksi untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang akan sangat mempengaruhi masa depan mereka.

Sejak akhir Desember 2021 hingga Februari 2022, pemuda Pekalongan yang berasal dari 15 SMA/sederajat, perguruan tinggi, 8 kelurahan dan berbagai komunitas lainnya, termasuk 20 peserta dari SLB Negeri Pekalongan mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) film Semesta. Sebanyak 1.140 orang mengikuti kegiatan yang diinisiasi oleh KEMITRAAN dan Pemerintah Kota Pekalongan dengan dukungan dari lembaga Adaptation Fund (AF).

Film Semesta mengisahkan perjuangan tujuh sosok dengan latar belakang yang berbeda di tujuh provinsi namun memiliki tujuan yang sama, yakni menghambat terjadinya perubahan iklim yang semakin ekstrim. Mereka memiliki kesadaran penuh untuk menjaga alam dengan keragaman budaya, adat, agama dan kepercayaan. Setelah mengikuti nobar film Semesta, diharapkan banyak anak muda Pekalongan yang terinspirasi dan tergerak untuk melakukan aksi dan kolaborasi dalam menghadapi perubahan iklim.

Beberapa anak muda Pekalongan yang hadir dalam acara nobar mulai angkat suara terkait isu perubahan iklim dan pencegahannya. “Indonesia sangat cantik, tetapi saat ini kondisinya sedang sakit karena perubahan iklim. Untuk menyembuhkan Indonesia perlu menjaga kelestarian alam, dan anak muda harus turut andil di dalamnya.” tutur Okta, pemuda Karang Taruna Kelurahan Kandang Panjang. 

“Untuk menjaga lingkungan, anak muda Pekalongan bisa melakukan go green dan go clean agar lingkungan menjadi rindang dan air bisa meresap ke dalam tanah.” ucap Uswatun Khasanah, siswi kelas XII SMU Islam Pekalongan. 

Selain anak muda, nobar juga dihadiri oleh guru dan kepala sekolah selaku oendamping siswa. Bapak Drs. H.R.M. Firdaus, M.Si selaku Kepala Sekolah MA Salafiyah menyebut , “Film Semesta ini menjadi pengingat kita semua sebagai makhluk Tuhan untuk menjaga kelestarian alam, sebagaimana dalam Al-Qur’an telah diperingatkan bahwa kerusakan alam diakibatkan oleh tangan-tangan manusia, maka sebaiknya kita tidak merusak alam karena alam yang menghidupi manusia. Ketika alam rusak, kehidupan manusia terancam.”  

Semakin banyak generasi muda yang sadar dan bersemangat menjaga kelestarian alam, akan sangat membantu menghambat perubahan iklim yang semakin ekstrim.