Oleh: Yael Stefany

Aku lahir dan tumbuh di sudung, rumah sederhana dari kayu dan daun, berdiri di tepi hutan taman nasional bukit dua belas Jambi. Sejak kecil, hidupku berpindah-pindah mengikuti sumber makanan. Hutan adalah rumah, sekolah, sekaligus ruang bermainku. Di sanalah aku belajar mengenali jejak, mencari ikan, berburu, dan mengumpulkan buah jernang untuk pewarna bibir atau anyaman. Sebagai anak perempuan, aku tetap ikut ke hutan. Tak pernah terpikir bahwa hidupku akan jauh berbeda dari tradisi leluhurku.

Aku sering melihat anak-anak lain berjalan dengan seragam rapi dan tas di punggung menuju ke sekolah. Setiap kali melihatnya, aku merasa iri sekaligus penasaran. Apa yang mereka lakukan di sekolah? Apa yang mereka pelajari dan berapa banyak teman-temannya? Dari situ, aku mulai tertarik dan ingin sekolah.
Namun sekolah bukan hal yang mudah bagi anak-anak SAD, karena kami tidak punya dokumen kependudukan. Saat itu, aku bahkan tidak mengerti apa artinya itu. Setelah lebih dewasa sedikit baru mengetahui bahwa syarat masuk ke Sekolah Dasar (SD) harus memiliki identitas akta lahir dan Kartu Keluarga. Saat itu, mayoritas kelompok kami tidak memiliki kartu identitas, karena hidup kami nomaden, pernikahan tidak tercatat karena dilaksanakan secara adat.
Keinginanku bersekolah akhirnya kusampaikan kepada orang tuaku. Aku ingin sekolah. Mereka mengizinkan. Melalui program pemberdayaan yang dilaksanakan oleh Pundi Sumatera, aku masuk menjadi murid di sekolah alam yang mereka selenggarakan. Di situlah aku pertama kali mengenal Calistung (baca, tulis dan hitung). Kami sangat antusias, karena anak-anak di komunitasku sebenarnya sudah lama ingin belajar, hanya saja kami tidak tahu harus mulai dari mana.
Sekolah alam menjadi pintu pertama. Orang tuaku mulai melihat bahwa membaca dan berhitung bukan sekadar pelajaran. Itu bekal agar kami tidak mudah dibohongi saat menjual hasil hutan atau sawit. Sambil mengajar, para pendamping Pundi Sumatera membantu mendata anggota rombong untuk kemudian membantu mengurus dokumen kependudukan.

Pendamping berbicara dengan dinas dan pemerintah daerah agar kami bisa mengakses layanan dasar. Saat itu aku belum paham. Kini aku tahu, sebelum aku duduk di bangku sekolah formal, ada perjuangan agar namaku diakui.
Setelah diterima di sekolah formal, bukan berarti semuanya berjalan mudah. Aku sering diejek sebagai “orang kubu” dan tidak pantas bersekolah. Kata-kata itu membuatku takut berteman. Aku menjadi sangat pendiam. Aku tidak pernah bercerita pada orang tuaku karena takut mereka akan menarikku dari sekolah. Aku menyimpan rasa sedih itu sendiri.
Belum lagi, cara belajar di kelas juga menantang. Ada pemberian tugas-tugas pekerjaan rumah yang banyak, guru yang meminta kami maju kedepan kelas untuk menjawab pertanyaan. Sementara kami tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak. Setelah pulang sekolah, aku dan banyak anak-anak lain tetap berkewajiban membantu orang tua di rumah.
Mengalami situasi demikian, banyak temanku memilih menyerah. Namun bagiku, rasa ingin tahuku selalu lebih besar daripada lelahku sehingga semangatku bersekolah mengalahkan semua tantangan, lagipula berhenti sekolah bukan pilihan.
Sebagai perempuan, aku dididik untuk rajin dan tinggal dekat rumah dan banyak anak perempuan akan dinikahkan setelah berusia lima belas tahun. Namun tidak buatku, aku bertekad ingin melanjutkan sekolah. Saat aku melanjutkan sekolah ke SMP dan SMA, komentar mulai berdatangan.
“Untuk apa perempuan sekolah tinggi? Bukankah akhirnya kembali ke rumah?”
Menanggapi komentar itu, aku memilih diam. Bukan karena setuju, tetapi karena belum cukup berani melawan. Buatku, selama Apak dan Amak mendukung aku bersekolah, lebih dari sekadar bahan bakar untukku tetap semangat belajar.
Di rumah, aku terlibat dalam usaha kelompok ekonomi yang didampingi Pundi. Setelah beberapa usaha gagal, dari mulai beternak kambing, bercocok tanam, Pundi bersama kami mulai membangun kolam ikan patin. Hasil panennya diolah menjadi ikan asap, pengolahan yang secara turun temurun telah kami lakukan.
Kemudian, Dinas Perikanan memberi pelatihan pengasapan serta pengemasan. Aku jadi salah satu dari sekian peserta pelatihan. Setelah berhasil, kami berinisiatif membuka usaha berjualan ikan asap dan menjadikan yang dulu hanya untuk konsumsi sendiri, kini punya nilai ekonomi. Saat aku mulai berkontribusi, orang melihatku kini sebagai perempuan bersekolah sekaligus penggerak ekonomi keluarga. Di titik ini, ekonomi menjadi jembatan antara aku sebagai perempuan yang memilih pendidikan dengan penerimaan sosial.
Menjelang lulus SMA, tekanan untuk menikah semakin besar. Banyak teman seusiaku berhenti sekolah karena dinikahkan. Sementara aku, semakin bulat untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kuliah. Keinginan tersebut semakin tebal saat berkesempatan mengunjungi kampus bersama Pundi Sumatera. Untuk pertama kalinya aku melihat ruang yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku merasa asing, tetapi juga tertarik.
Aku diterima di Fakultas Kehutanan, Universitas Muhammadiyah Jambi. Aku memilih jurusan itu karena hutan sudah menjadi bagian dari hidupku dan juga komunitasku. Bedanya, kini aku mempelajarinya secara ilmiah. Pergi kuliah juga menjadi cara menjaga jarak dari tekanan menikah. Awalnya orang tuaku tidak mengizinkan. Namun dengan penguatan dari pendamping, mereka luluh. Dengan syarat aku tinggal di tempat aman dan dalam pengawasan. Aku tahu keputusan itu berat bagi mereka.

Di kampus, aku menemukan suasana yang berbeda. Tidak ada ejekan. Tidak ada yang meremehkan latar belakangku. Aku ikut praktikum, pelatihan menulis, dan berbagai kegiatan. Perlahan, rasa takut dijauhi hilang dan muncul perasaan percaya pada diri sendiri, aku bisa. Aku tidak pernah malu menjadi bagian dari komunitasku
Selama kuliah, aku melihat perubahan lain di komunitasku. Mereka mulai dilibatkan dalam pelatihan, posyandu, dan rapat-rapat yang ada di desa. Aku sendiri beberapa kali diajak berdiskusi ke dinas. Perubahan itu tidak terjadi seketika. Ia tumbuh dari proses panjang membangun kepercayaan.
Tahun 2024, aku lulus dengan predikat cum laude. Banyak yang menyebutku perempuan SAD pertama yang lulus perguruan tinggi. Aku bersyukur. Tetapi aku tahu, pencapaian itu bukan hanya tentang diriku. Itu tentang perjalanan sejak aku tinggal di sudung, sejak namaku belum tercatat, sejak aku takut diejek, sejak aku hampir menyerah. Itu tentang dukungan dan kepercayaan dari orang tua, pendamping, dan ruang yang perlahan terbuka.

Kini aku kembali ke komunitasku. Bersama tujuh teman, kami mengembangkan usaha ikan asap. Perempuan menjadi penggeraknya. Kami mengelola usaha lebih terstruktur. Aku juga membantu memfasilitasi forum kelompok. Dulu aku takut berbicara. Sekarang aku berani menyampaikan pendapat.
Aku melihat semakin banyak anak perempuan ingin sekolah. Tantangan terbesar masih pada izin orang tua dan norma lama. Tetapi aku percaya, ketika satu orang berjalan lebih dulu, jalan itu menjadi lebih terlihat bagi yang lain.
Dulu aku hanya ingin memakai seragam seperti anak-anak lain. Hari ini aku tahu, yang berubah bukan hanya seragamku, melainkan juga cara aku melihat diriku sendiri, cara komunitas melihat pendidikan dan perempuan serta cara dunia mulai melihat kami.