SELAMATKAN KELURAHAN DEGAYU

22 Apr 2022
Dok. Kemitraan

Dani sedang membibit mangrove jenis Rhizophora mucronata

Sudah lama Dani, warga kelurahan Degayu, kota Pekalongan, merasakan kegelisahan akibat abrasi wilayah pesisir yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Ancaman banjir rob sudah sampai tahap mengkhawatirkan. Muka tanah di sebagian wilayah Kota Pekalongan turun hingga 34 cm per tahun (Penelitian KEMITRAAN tahun 2018). Mulai tahun 2001, banjir rob mulai masuk di Kelurahan Degayu dan di tahun 2005 masyarakat mengalami banyak kerugian yaitu para petani sawah perlahan kehilangan lahannya.  

Salah satu upaya menghindari banjir rob menurut Dani adalah dengan budidaya mangrove. “Mangrove bukan hal baru lagi buat saya. Dari kecil sampai sekarang saya sudah terbiasa dengan mangrove karena orangtua saya sudah memulai pembibitan mangrove sejak tahun 2004. Dari sinilah saya sangat tertarik dengan mangrove,” cerita pemuda berusia 27 tahun ini. Di samping sebagai pedagang angkringan, Dani memiliki aktivitas pembibitan dan pemeliharaan mangrove bersama ayahnya yang tergabung dalam kelompok tani MAPAN.

Di tengah kegundahan hatinya mencari cara menyelamatkan daerah tempat tinggalnya dari banjir rob, Dani mulai memetakan area-area di kelurahan yang memiliki luas 33.706 Ha yang berpotensi untuk penghijauan mangrove. Berdasarkan penelusurannya, area depan Taman Pendidikan Al Qur'an (TPQ) di RT05/RW07 Dusun Clumprit adalah wilayah yang sesuai untuk ditanami mangrove. Di sana ada fasilitas umum Mandi Cuci Kakus (MCK) umum yang tidak lagi dapat digunakan oleh warga sekitar karena tergenang air rob. Menurut Dani, jika kondisi ini dibiarkan maka sebentar lagi air rob akan menggenangi tempat tinggal warga sekitar lokasi MCK.

Dusun Clumprit sendiri sudah sering terdampak banjir rob. “Lebih dari 5 Ha sawah warga terdampak banjir, kemudian meluas memasuki area pemukiman warga yang mencapai kurang lebih 15 Ha. Bahkan hampir 500 KK rumahnya sudah menjadi langganan banjir rob,” kata Hermanto selaku Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat.

Namun pada sisi lain, Dani masih kurang percaya diri untuk menyuarakan kegelisahannya dan khawatir hanya dia dan keluarganya yang menganggap Degayu sedang dalam kondisi bahaya.  Kemudian, pada Februari 2022 lalu, Dani menghadiri acara nonton bareng film Semesta yang dilaksanakan KEMITRAAN dan Pemerintah Kota Pekalongan dengan dukungan dari lembaga Adaptation Fund (AF). Ia terinspirasi dari kisah tokoh  dalam film saat menghadapi perubahan iklim. Dani merasa semangatnya berkobar dan terdorong untuk melakukan hal serupa dalam menjaga tempat tinggalnya dari dampak perubahan iklim.

“Menyelamatkan alam harus segera dimulai, apalagi sudah hampir tiga tahun terakhir warga di Kelurahan Degayu dilanda banjir rob. Kondisi ini semakin parah jika musim penghujan tiba,“ tandas Dani.

Dani mengumpulkan keberanian mengutarakan maksudnya kepada tokoh masyarakat setempat dusun Clumprit yang kebetulan hadir juga dalam pemutaran Film Semesta. Gayung bersambut, tokoh masyarakat Dusun Clumprit mendukung idenya. Bahkan pemilik tambak di area tersebut merelakan lahannya untuk ditanami mangrove demi perlindungan warga.

Aksi penanaman mangrove ini juga mendapat dukungan dari KEMITRAAN dalam bentuk bibit mangrove jenis Rizhopora mucronata sebanyak 500 bibit. Pihak kelurahan pun mendukung aksi penanaman melalui surat permohonan bibit kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan mendapat tambahan dukungan sebanyak 300 bibit mangrove jenis yang sama.

Pak wakil walikota dan ibu wakil walikota Pekalongan sedang manaman pohon mangrove pertama di RW05/RW07

 

Aksi penanaman mangrove ini adalah aksi pertama kali bagi warga Kelurahan Degayu. Diharapkan dari aksi ini, masyarakat yang tinggal di sekitar Dusun Clumprit terbebas dari banjir dan rob. Acara aksi penanaman ini dihadiri oleh Wakil Walikota Kota Pekalongan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekalongan, Camat Pekalongan Utara, Lurah Kelurahan Degayu beserta staff kelurahan. Kemudian hadir pula Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), Dandim (Komandan Distrik Militer), LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat)BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat)PKK (Pembinaan Kesajahteraan Keluarga)FKSS (Forum Kelurahan Siaga Sehat ) Karang Taruna, Forum Anak, serta masyarakat.

Aksi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat kelurahan Degayu, khususnya Dusun Clumprit. Beberapa tokoh masyarakat seperti Tisya Oktariadhani (Carik Degayu), Ratih (Faskel Kelurahan), Yakhoni (Ketua RW 08), Bapak Faruk (Ketua RT 07 RW 08) bersepakat membentuk kelompok peduli lingkungan dengan nama Degayu for the Future. Dani dan 11 anggota kelompok peduli lingkungan bertekad melanjutkan perawatan dan pemeliharaan bibit mangrove yang ditanam. Perawatan akan dipantau secara berkala dan melakukan penyulaman kembali jika terdapat mangrove yang rusak atau mati.

Tak sampai di situ, aksi warga Dusun Clumprit Kelurahan Degayu ini telah mendapat perhatian banyak pihak, salah satunya dari Pemerintah Kota Pekalongan melalui rencana pembangunan jalan menuju MCK umum agar dapat dimanfaatkan kembali oleh warga.

Dani berharap, upayanya yang sederhana dapat dikerjakan terus menerus dan berujung pada selamatnya kelurahan Degayu dari ancaman banjir rob dan dampak perubahan iklim lainnya.

Dituliskan oleh:

Mochamad Baihaqi

Community Organizer AF Pekalongan