Menuju Ketahanan Iklim Masyarakat Berbasis Lanskap DAS (Daerah Aliran Sungai) di Sulawesi Selatan

28 Jul 2022
Dok. Kemitraan

Dari kiri ke kanan: Laode M. Syarif Ph.D (Direktur Eksekutif KEMITRAAN), Dr. Abdul Hayat, M.Si (Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan), M. Ichwan, M. hut, (Direktur KAPABEL)

Makassar, 28 Juli 2022 - Berdasarkan Renstra Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2015-2019, Daerah Aliran Sungai (DAS) Saddang merupakan “Daerah Aliran Sungai Prioritas di Indonesia”. DAS Saddang mengalir ke empat kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan sebagian kecil wilayahnya terletak di Sulawesi Barat. Saat ini hampir 1 juta orang bergantung pada sumber daya yang tersedia di Ekosistem DAS Saddang yang seluas 661.932 ha. 

Namun tingkat risiko wilayah akibat perubahan iklim terkait dengan tingkat bencana di DAS Saddang menunjukkan bahwa 93% desa di sekitarnya rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama dalam hal ketersediaan dan akses pangan (ketahanan pangan). Seperti penurunan produksi pangan dan perkebunan, gagal panen akibat banjir dan kekeringan. Di Kabupaten Enrekang, terjadi penurunan produksi pertanian akibat pembusukan betang buah, serangan penyakit dan hama, dan perubahan morfologi hasil pertanian. Masalah tersebut hadir akibat masyarakat kurang mampu mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan anomali cuaca yang terjadi. 

Berbagai tantangan tersebut membutuhkan langkah antisipasi lebih dini agar masyarakat di sekitar DAS Saddang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim. Proyek Adaptasi Masyarakat Ekosistem DAS Saddang Berbasis Pengelolaan Pangan Hutan didukung oleh Adaptation Fund, bekerjasama dengan KEMITRAAN (Kemitraan Bagi Pembaruan Tata Pemerintahan) yang diimplementasikan oleh Konsorsium Adaptasi Perubahan Iklim dan Lingkungan (KAPABEL). Konsorsium ini terdiri dari lima (5) lembaga yaitu: 1) Yayasan Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM) selaku Lead Konsorsium dan; 2) Yayasan Alumni Kehutanan Unhas (YAKU); 3) Puslitbang National Heritage, Biodiversity, and Climate Change, Universitas Hasanuddin; 4) Kanopi Hijau; 5) Bumi Lestari. Tujuan utama dari program ini adalah meningkatkan ketahanan pangan masyarakat DAS ekosistem Saddang sebagai upaya untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.  

Laode M. Syarif, Direktur Eksekutif KEMITRAAN

Laode M. Syarif, Direktur Eksekutif KEMITRAAN mengungkapkan, “Kita sedang berpacu dengan waktu untuk membantu masyarakat yang paling terdampak agar segera beradaptasi menghadapi tantangan perubahan iklim. KEMITRAAN sebagai satu-satunya mitra yang terakreditasi oleh Adaptation Fund dengan dukungan Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (Ditjen PPI) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), mendampingi lima proyek di berbagai daerah di Indonesia, dengan satu misi utama, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim. Bersama KAPABEL, salah satu tujuan utama yang ingin kami capai adalah meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dengan memanfaatkan hasil alam selain pertanian, dengan cara-cara ramah lingkungan. Kami percaya ketika masyarakat tidak lagi tergantung pada pertanian dan tingkat kesejahteraannya meningkat, maka proses adaptasi perubahan iklim akan berjalan lebih lancar.”

M. Ichwan, KAPABEL

Salah satu upayanya adalah dengan memperluas area perhutanan sosial bagi masyarakat setempat. Muh. Ichwan, Direktur KAPABEL, membeberkan bahwa sejak proyek bergulir selama kurang lebih 21 bulan, telah terbit 9 (SK) Surat Keputusan Perhutanan Sosial untuk desa sekitar DAS Saddang. Area tersebut meliputi peningkatan 5000 hektar izin penggunaan hutan. “Dilanjutkan dengan pembentukan 18 KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial) di berbagai desa. Di antaranya KUPS Kopi di di Toraja yang telah bekerjasama dengan Kopi Kulo dan KUPS Kemiri di Kabupaten Enrekang yang telah diekspor ke Hongkong. Kami berupaya meningkatkan produktivitas mereka melalui pengadaan alat-alat produksi dan pelatihan strategi penjualan.”

Industri rumah tangga di Kawasan hilir DAS Saddang pun telah terbentuk dengan melibatkan berbagai kelompok perempuan yang rentan terdampak perubahan iklim. Di antaranya keripik Salak (Salacca zalacca), keripik rumput laut dan marasa. “Untuk memastikan industri rumah tangga ini berkelanjutan, kami juga telah bekerjasama dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Terpadu (PMPTSP),” tambah Ichwan. 

Berbagai produk dari KUPS dan industri rumahan desa sekitar DAS Saddang

Kegiatan Festival dan Expo KAPABEL 2022 yang dilaksanakan tanggal 27-28 Juli 2022 di hotel Aston, Makassar, merupakan ajang berbagi proses perjalanan, pembelajaran, serta hasil-hasil yang telah dicapai dari proyek ini. Kegiatan dengan tema Menuju Ketahanan Iklim Masyarakat berbasis Lanskap DAS di Sulawesi Selatan ini diharapkan akan memperkuat kesepahaman bersama para pihak tentang adaptasi perubahan iklim, khususnya dalam konteks lanskap DAS yang mencakup baik ekosistem dataran tinggi (pegunungan/hutan), hingga ke ekosistem perairan (hilir sungai dan pesisir). Berbagai KUPS dan industri rumahan juga turut berpartisipasi dalam acara ini.

Dr. Abdul Hayat, M.Si, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan

Dr. Abdul Hayat, M.Si, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, yang turut hadir dalam acara ini menyatakan, “Kami mengapresiasi keterlibatan KEMITRAAN, KAPABEL dengan dukungan Ditjen PPI – KLHK dan lembaga internasional, Adaptation Fund, agar masyarakat sekitar DAS Saddang dapat meningkatkan tingkat perekonomiannya melalui teknik yang ramah lingkungan. Semoga seluruh masyarakat dapat menyadari pentingnya beradaptasi dengan perubahan iklim saat ini untuk masa depan kita.