Buku Empat Menyemai Gambut

19/04/2021

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi serial bencana yang terus menghantui desa-desa di dalam dan sekitar ekosistem gambut sepanjang tahun 1997, 2014, 2015 hingga terakhir di tahun 2019. Kerugian secara materil hingga keselamatan masyarakat desa menjadi ancaman dari bencana karhutla dan asap yang berkelanjutan di setiap periodenya. Penyelesaian tentang bencana karhutla sering kali masih dilakukan secara reaktif dan menekankan ke aspek penanggulangan daripada pencegahan. Upaya penanganan karhutla hanya diturunkan dari tingkat nasional ke tingka pemerintah daerah di Kabupaten atau Kota. Padahal “Desa” sebagai unit sosial dan unit administratif terkecil menjadi otoritas paling tapak yang berhadapan dengan ekosistem gambut dan risiko karhutla di hutan dan lahan gambut. Salah satu kebijakan terbesar pemerintah dalam upaya “menjaga” lahan gambut adalah dengan dibentuknya Badan Restorasi Gambut (BRG) pada awal tahun 2016 silam, dan upaya melibatkan desa sebagai perancang dan aktor utama pencegahan karhutla melalui restorasi gambut telah  dilakukan sejak empat tahun terakhir. Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (the Partnership for Governance Reform) telah terlibat secara intensif pada Program Desa Peduli Gambut dalam perbaikan tata kelola gambut di lokasi prioritas restorasi gambut yang ditargetkan oleh Badan Restorasi Gambut.

 

Dengan pendekatan 3R, rewetting (pembasahan kembali), revegetation (penanaman kembali), dan  revitalization (revitalisasi ekonomi), Program Desa Peduli Gambut melembagakan upaya restorasi gambut di tingkat desa. DPG adalah kerangka penyelaras untuk program–program pembangunan yang ada di perdesaan gambut, khususnya di dalam dan sekitar areal restorasi gambut. Program DPG meliputi kegiatan fasilitasi pembentukan kawasan perdesaan, perencanaan tata ruang desa dan kawasan perdesaan, identifikasi dan resolusi konflik, pengakuan dan legalisasi hak dan akses, kelembagaan untuk pengelolaan hidrologi dan lahan, kerja sama antar desa, pemberdayaan ekonomi, penguatan pengetahuan lokal, hingga kesiapsiagaan masyarakat desa dalam menghadapi bencana karhutla dan asap di ekosistem gambut. Buku kisah pembelajaran Program DPG yang berjudul “Empat Menyemai Gambut” ini menceritakan salah satu pendekatan program dalam penyatuan paradigma pemberdayaan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Buku ini disusun bersama sebagian besar dari fasilitator desa yang menjadi bagian dari pendampingan Kemitraan di 159 desa gambut.  

 

Buku ini mengenalkan empat model revitalisasi ekonomi desa yang mendukung kelestarian gambut: 1) paludikultur; 2) pertanian adaptif yang berbasis gambut; 3) kompensasi langsung; dan 4) pembagian keuntungan (profit sharing) yang berbasis non-gambut. Keempat model tersebut menjadi refleksi pembelajaran Kemitraan dalam implementasi revitalisasi ekonomi di desa gambut berbasis karakteristik penghidupan ekonomi lokal. Sebagaimana diketahui, pembangunan ekonomi pada ekosistem gambut yang ada di Indonesia sebelum tahun 2015 amat didominasi dengan pendekatan monokultur dan ekstensifikasi pertanian. Melalui buku ini, pembaca akan menyimak beberapa kisah perubahan atau praktik baik (best practices) tentang sistem penghidupan lokal yang ramah gambut, berbasis pengelolaan ekonomi desa yang terintegrasi dengan paradigma pencegahan karhutla, dan memaksimalkan komoditas unggulan di masing-masing desa. Aspek pencegahan karhutla dan pengarusutamaan Pengelolaan dan Perlindungan Ekosistem Gambut menjadi hal yang penting dalam memperkuat ekonomi masyarakat desa gambut di Indonesia hari ini, agar generasi Bangsa Indonesia tidak akan menjadi korban bencana asap dan karhutla di masa yang akan datang. Selamat Membaca !

 

Buku Empat Menyemai Gambut dapat didownload di sini.