Penggunaan Drone Untuk Data Desa

111

Banyumas, (27-28 Maret 2017). Untuk membangun desa, data yang detil menjadi salah satu kunci utama.

Hal ini menjadi salah satu kesimpulan dari pelatihan Baseline dengan tema Berdaulat Dalam Data Untuk Membangun Desa Baru yang dilaksanakan oleh Kemitraan bersama BKAD Semadya dan Desa se-Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah.

Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di gedung olah raga Desa Karang Nangka selama dua hari dihadiri oleh 40 peserta yang mewakili 14 Desa, antara lain; Desa Kali Kesur, Keniten, Bocoran, Basen, Karang Salam Kidul, Karang Nangka, Windu Jaya, Kali Salak, Karang Nangka, Beji, Wlahar Wetan dan Datar.

Radjawali dari Kemitraan menjelaskan pentingnya penggunaan teknologi untuk menghasilkan data, salah satunya dengan penggunaan drone.

Radja berbagi pengalaman bagaimana drone telah digunakan oleh para petani padi di Gorontalo dalam mendeteksi tanaman di sawah yang terserang hama, sehingga bisa dengan cepat dilakukan tindakan pencegahan agar tidak menyebar.

Drone juga telah berhasil digunakan untuk memetakan potensi kerugian negara yang dihasilkan dari penyalahgunakan izin tambang di Kalimantan maupun di Papua.

“Drone mampu memotret fakta bahwa salah satu perusahan tambang menyalahi aturan dan beroprasi di luar wilayah yang telah diizinkan.”

Dalam konteks desa menurut Radja, drone dapat digunakan untuk memetakan lahan pertanian desa, memetakan batas antar desa dan bahkan untuk mengidentifikasi potensi banjir.

Desa tidak perlu khawatir soal kekhawatiran bahwa teknologi baru pasti mahal dan sulit mengoperasikannya. Berdasarkan pengalamannya selama menggeluti drone, Radja menyebut bahwa ilmu ini dapat ditularkan dengan mudah, bahkan kepada anak-anak yang terbiasa main video game.

Sementara untuk harga, memang di pasaran berkisar antara Rp. 300 juta. Namun di Indonesia, anak-anak mudanya telah berhasil menciptakan drone dengan harga antara Rp 15 – 30 juta. Kualitasnya juga tidak kalah, dan pengalaman-pengalaman di Gorontalo dan Kalimantan serta Papua juga menggunakan drone hasil karya anak bangsa.

“Pemuda-pemuda di Kalimantan, Gorontalo dan Papua sudah banyak yang dapat menggunakan drone, untuk konteks desa, baru di sini (Banyumas) saya mempresentasikan drone, dan saya optimis desa-desa di Banyumas bisa menggunakan drone untuk membangun data desa yang detil.” Jelas Radja.

Sementara itu, Arif Nurdiansah yang juga fasilitator pelatihan Baseline dari Kemitraan menyebut data yang detil sangat membantu aparat desa dan warganya.

Namun demikian, berdasarkan analisa di dokumen RPJMDes beberapa desa peserta telah ditemukan data, namun belum detil. Misalnya menurut Arif sudah ada data sebatas tingkat usia penduduk dan tingkatan pendidikannya. Jika data itu lebih dipertajam, misalnya dari total usia anak sekolah, berapa anak yang putus sekolah. Dari sini desa dapat mengupayakan program kejar paket sesuai dengan tingkatannya bekerjasama dengan instansi terkait.

Data serupa juga berlaku untuk program-program yang lain. “Semakin detil data maka semakin mudah merumuskan dan tepat sasaran program untuk warga.” Jelas Arif.

Pelaksanaan baseline dan penggunaan drone dapat menjadi salah satu alternatif cara yang dapat digunakan desa untuk mendapatkan data secara detil dan spesifik sesuai dengan kebutuhan.

Dalam pelatihan ini juga disepakati beberapa rencana tindak lanjut pasca kegiatan. Perumusan tindak lanjut yang difasilitasi oleh Yasir Sani dari Kemitraan menghasilkan antara lain, pembentukan tim penyusun data Desa yang terdiri dari para KPMD masing-masing desa, penyusunan Data di 14 Desa peserta Pelatihan, pendampingan oleh fasilitator kepada tim serta koordinasi dengan Kecamatan Kedungbanteng terkait wacana pembentukan Indeks desa.