Cinta Sebagai Ajaran Agama

18

JAKARTA (27/06/2016) , Agama-agama di dunia mengajarkan cinta kasih Kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya sehingga tidak dapat dibenarkan manusia menyakiti manusia lain dalam bentuk dan dengan alasan apapun, karena sejatinya agama adalah menghormati dan menghargai antar manusia.

Hal ini menjadi salah satu kesimpulan dari diskusi yang dihadiri lebih dari 130 peserta dan dilaksanakan oleh Kemitraan bersama OutRight Action International dan Arus Pelangi dengan tema “Keberagaman Seksualitas dalam Perspektif Agama”.

Toety Herati, Pendiri Jurnal Perempuan dan pemilik Galery Cemara6 dalam sambutannya bahkan menyebut bahwa sifat sifat dasar manusia adalah cinta dan kasih sayang.

“Mencintai dan kasih sayang adalah sesuatu yang harus kita imani sebagai kodrat manusia”.

Cinta sebagai ajaran agama tidak seharusnya membedakan bahkan terhadap kelompok yang memiliki keberagaman seksual sekalipun. Imam Aziz dari PBNU dalam sebagai keynote speaker menyatakan bahwa banyak kelompok agama bertindak diluar tujuan agama yang memuliakan manusia.  Untuk itu kita perlu memberikan edukasi dan dakwah untuk menghindari mereka berlaku kekerasan terhadap kelompok LGBTI.

Menurut Imam Aziz, persoalan LGBT, terutama Transgender sudah selesai di tahun 90-an dengan keluarnya fatwa NU yang mensahkan dan memperbolehkan penggantian kelamin dari kelamin yang dilahirkan laki-laki dan merasa perempuan (atau sebaliknya).

Beliau menambahkan, dalam isu berkaitan dengan Lesbian, Gay, dan Biseksual (LGB) yang dipersoalakan adalah orientasi seksual. Pertanyaannya kemudian siapa yang berhak menghukum sebuah orientasi? Dalam kisah Nabi Luth yang sering dikaitkan dengan LGBT, masalah sebenarnya adalah terletak pada kekerasan seksual yang dilakukan, dimana salah satunya dengan menjadikan laki-laki sebagai obyek hasrat seksual,

“Jadi yang dimaksud dosa disini adalah kekerasan seksual yang dilakukan.”

Sementara itu, menurut Amina Wadud, tokoh akademis feminis internasional menyatakan bahwa dalam konteks agama ada 3 hal yang harus diperhatikan yaitu penghormatan, iman  dan keadilan.

“Seluruh diskusi mengenai iman dan ketakwaan seseorang terhadap sebuah agama sangat jelas bahwa itu bukan mengenai gender, orientasi seksual, ras atau warna kulit, bahasa, bahkan agama.” Jelas Aminah.

Sehingga menurut beliau, menjadi homoseksual atau menjadi heteroseksual adalah ranah pribadi seseorang. “Orientasi seksual sama seperti hubungan seksual, orang tidak selayaknya mempertanyakan pasangan berapa kali berhubungan seksual dalam seminggu, karena hal tersebut merupakan ranah pribadi dan bukan urusan orang lain”

Dengan demikian melakukan kekerasan karena perbedaan orientasi seksual tidak menemukan landasannya dalam agama sebab pada dasarnya semua agama meninggikan kedudukan cinta diatas berbagai perbedaan tersebut.